Saturday, 12 December 2015

Wanita Jepang Jago Urusan Seks


Wanita Jepang boleh dikatakan hampir semuanya cantik. Saya pribadi pun yakin, bahwa banyak pria sependapat akan hal itu. Ya, Jepang memang telah lama diketahui sebagai negara dengan kualitas nomor satu soal pembuatan film porno. Tak heran, dari sinipun sebenarnya ada kaitannya pula dengan orang-orang yang tidak berprofesi sebagai bintang film porno.

Ya, orang Jepang tak hanya dikenal ulet dalam bekerja, namun juga soal urusan seks. Sekedar catatan, rata-rata perempuan di negeri matahari terbit itu, masih bisa melakukan hubungan seksual di usianya yang menginjak 86 tahun.
Alhasil, usia harapan seks pada wanita Jepang menempatkan di posisi nomor satu paling lama di dunia. Demikian data yang dirilis Badan Kesehatan Dunia (WHO) yang dikutip Telegraph.co.uk. WHO sendiri, mengumpulkan data tersebut berdasarkan laporan sejak 2007.

Sementara itu, pria yang memiliki usia harapan seks paling lama adalah penduduk San Marino. Di rata-rata usia 81 tahun, pria San Marino masih bisa melakukan hubungan seks. Pria di Siera Leone tercatat memiliki usia harapan seks rata-rata terendah, yaitu 39 tahun. Sementara perempuan Afghanistan memiliki usia harapan seks rata-rata 42 tahun.

Data WHO juga menyebutkan, Angola, Eritrea, dan Liberia menunjukkan perkembangan positif dalam harapan usia seks. Sementara Botswana, Kenya, dan Lesotho mengalami penurunan sejak 1990. Rata tersebut merupakan salah satu dari 100 tren kesehatan yang dirilis WHO.
MESKIPUN WANITA JEPANG JAGO AKAN URUSAN SEKS, NAMUN UNTUK TINGKAT KELAHIRAN TERGOLONG RENDAH DI DUNIA
Jepang adalah negara yang sedang sekarat. Hal ini dikarenakan para penduduk Jepang memiliki penduduk berusia di atas 65 tahun yang sangat besar dan Jepang juga merupakan negara dengan jumlah penduduk di bawah usia 15 tahun terkecil di dunia. Dengan pertumbuhan penduduk yang negatif ini, penduduk Jepang hampir tidak ada yang memiliki bayi.Berdasarkan survey, 50% wanita di Jepang berstatus single, sedangkan pria single adalah 60% dari jumlah semua pria di Jepang. Entah mengapa mereka lebih menyukai sendirian, apakah karena mereka bisa bebas tanpa ikatan, apakah mereka hanya fokus kerja (workaholic) ataukah mereka adalah para korban kemajuan teknologi dan lebih menyenangi produk produk sex dari Jepang daripada hubungan real?
Selain itu, di masa sulit seperti ini, para penduduk Jepang menempatkan pernikahan dan keluarga dalam prioritas terbawah dan justru lebih memilih bersenang-senang saja soal cinta. Dilain cerita, seorang reporter bernama Ryan Duffy menyelidiki fenomena ini di Jepang, ia menangkap, sebagian besar orang Jepang tidak suka menikah, jangankah menikah berpacaran aja tidak.

Alasannya, mereka tidak mau ada ikatan sedikitpun, supaya mereka bisa bersama dengan orang lain juga, tak ada dendam, tak ada cemburu. Mereka percaya menikah hanyalah kesenangan di awal saja, akan tetapi, setelah memiliki anak hal itu akan memudar.

No comments:

Post a Comment

Berkomentarlah dengan bijak.